Selasa, 29 Juli 2014


The thing is... mungkin di awal-awal pernikahan, beberapa angan kita tentang pernikahan, terbukti. Jalan-jalan bareng, terutama semasa honeymoon. Si dia selalu berada di sisi kita, ketika cinta masih berwarna merah muda. Selalu mengantar jemput, mendengarkan seabreak curahan hati kita.

Tetapi kehidupan akan bertambah keras, dan umumnya pasangan harus berjuang, dan istri tidak bisa lagi bergaya sebagai si imut yg manja, yg menuntut untuk selalu menjadi prioritas utama suami, atau lebih karenanya menjadi cinderella yg jadi pusat perhatian sang pangeran. Bukan hanya suami, istri juga mengalami ini sih. Nggak usah jauh-jauh. The minute kita punya anak, pasti first priority bergeser : bukan si ayah lagi. Kini anak jadi tumpuan perhatian dan kasih sayang.

Bukan berarti lantas pasangan menjadi tidak penting lagi. Tetapi ketika terjadi perubahan dalam hidup, terlepas apakah terkait pekerjaan, situasi ekonomi, tempat tinggal, posisi dan jabatan, bertambahnya anggota keluarga, wajar jika prioritas ditinjau kembali atau ikut mengalami perubahan.

Realitasnya kira-kira begini, saat hanya berdua dengan suami, maka energi dan perhatian istri hanya terbagi dua, begitu juga situasinya dengan suami. Saat hadir anak pertama, maka energi dan perhatian itu terbagi menjadi tiga. Begitu seterusnya. Jika memahami ini, lontaran hati yg mungkin pernah tercetus di hadapan pasangan ketika kita ngambek: “aku ngerti ko, sekarang aku memang bukan prioritas lagi dalam hidup kamu!”

Tidak akan semudah itu keluar. Kecuali jika suami nyata-nyata menunjukkan sikap tidak bertanggungjawab : tidak memberikan nafkah lahir atau batin, padahal dia mampu. Atau sibuk dengan kegiatan tidak penting di luar kantor, hingga tidak punya lagi waktu untuk istri dan anak-anak. Atau menganiaya pasangan.

Keberadaan suami sebagai partner untuk membesarkan anak-anak menjadi generasi rabbani, juga ternyata bukan merupakan kepastian. Cukup banyak kaum ibu yg mengeluh kepada saya, karena memiliki suami yg cuek dan tidak peduli, boro-boro memiliki konsep untuk mengarahkan anak-anak. Sebagian ayah merasa sudah menunaikan tanggung jawab jika sudah memberikan uang belanja dan uang sekolah anak-anak.

Di sinilah kreativitas seorang ibu dan kekuatan hati dibutuhkan. Siapakah jiwa ternyata ruang ini hanya kita isi sendiri tanpa uluran tangan suami? Pun harapan lain seperti soal uang belanja rutin, uang jajan, serta semua kenyamanan hidup. Kehidupan dengan begitu banyak teka-tekinya menuntut persiapan kita, seorang istri untuk bisa mandiri secara ekonomi, jika terjadi sesuatu yg tidak kita harapkan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar