The thing is... mungkin di awal-awal pernikahan, beberapa
angan kita tentang pernikahan, terbukti. Jalan-jalan bareng, terutama semasa
honeymoon. Si dia selalu berada di sisi kita, ketika cinta masih berwarna merah
muda. Selalu mengantar jemput, mendengarkan seabreak curahan hati kita.
Tetapi kehidupan akan bertambah keras, dan umumnya pasangan
harus berjuang, dan istri tidak bisa lagi bergaya sebagai si imut yg manja, yg
menuntut untuk selalu menjadi prioritas utama suami, atau lebih karenanya menjadi
cinderella yg jadi pusat perhatian sang pangeran. Bukan hanya suami, istri juga
mengalami ini sih. Nggak usah jauh-jauh. The minute kita punya anak, pasti
first priority bergeser : bukan si ayah lagi. Kini anak jadi tumpuan perhatian
dan kasih sayang.
Bukan berarti lantas pasangan menjadi tidak penting lagi.
Tetapi ketika terjadi perubahan dalam hidup, terlepas apakah terkait pekerjaan,
situasi ekonomi, tempat tinggal, posisi dan jabatan, bertambahnya anggota
keluarga, wajar jika prioritas ditinjau kembali atau ikut mengalami perubahan.
Realitasnya kira-kira begini, saat hanya berdua dengan
suami, maka energi dan perhatian istri hanya terbagi dua, begitu juga
situasinya dengan suami. Saat hadir anak pertama, maka energi dan perhatian itu
terbagi menjadi tiga. Begitu seterusnya. Jika memahami ini, lontaran hati yg
mungkin pernah tercetus di hadapan pasangan ketika kita ngambek: “aku ngerti
ko, sekarang aku memang bukan prioritas lagi dalam hidup kamu!”
Tidak akan semudah itu keluar. Kecuali jika suami nyata-nyata
menunjukkan sikap tidak bertanggungjawab : tidak memberikan nafkah lahir atau
batin, padahal dia mampu. Atau sibuk dengan kegiatan tidak penting di luar
kantor, hingga tidak punya lagi waktu untuk istri dan anak-anak. Atau
menganiaya pasangan.
Keberadaan suami sebagai partner untuk membesarkan anak-anak
menjadi generasi rabbani, juga ternyata bukan merupakan kepastian. Cukup banyak
kaum ibu yg mengeluh kepada saya, karena memiliki suami yg cuek dan tidak
peduli, boro-boro memiliki konsep untuk mengarahkan anak-anak. Sebagian ayah
merasa sudah menunaikan tanggung jawab jika sudah memberikan uang belanja dan
uang sekolah anak-anak.
Di sinilah kreativitas seorang ibu dan kekuatan hati
dibutuhkan. Siapakah jiwa ternyata ruang ini hanya kita isi sendiri tanpa
uluran tangan suami? Pun harapan lain seperti soal uang belanja rutin, uang
jajan, serta semua kenyamanan hidup. Kehidupan dengan begitu banyak
teka-tekinya menuntut persiapan kita, seorang istri untuk bisa mandiri secara
ekonomi, jika terjadi sesuatu yg tidak kita harapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar