Rabu, 30 Juli 2014

Hati cermin keimanan


Assalamu'alaikum and Hi...

Hati cermin keimanan


Wahai muslimah... apakah yg menjadi pusat pengendali jiwa kita tatkala sedang gelisa? Jawabannya tentulah hati. Hati merupakan benteng jiwa yg harus kita pelihara agar terawat, utuh, dan kuat, sehingga bisa tetap bertahan dalam kondisi zaman yg terus berubah.

Dalam perjalanan hidup kita, hati akan senantiasa berubah. Kadang-kadang, hati merasa riang gembira tak terkira. Tetapi pada saat yg lain, hati akan merasa sedih. Pada waktu yg berbeda, hati merasa tenang. Tetapi pada saat yg lain, hati gelisah. Begitu pula dalam ibadah. Suatu saat, hati ingat kepada Allah dan ingin selalu beribadah. Tetapi pada saat yg lain, hati lupa kepada-Nya, bahkan banyak melanggar ajaran agama!

Itulah hati, sebagaimana artinya, selalu berubah-ubah. Hati atau qalb berasal dari kata qalaba yg bermakna ‘berbolak-balik’. Hati yg senantiasa bersih akan selalu tenang dan siap menghadapi keadaan apa pun, termasuk keadaan yg membuat kita sedih atau gelisah. Oleh karena itu, kita harus senantiasa menjaganya agar terus terarahkan pada hal-hal yg positif.

Sebenarnya, hati senantiasa membisikkan hal-hal yg baik. Misalnya, ketika ada orang yg mendapat musibah atau bencana meskipun berbeda agama, suku, golongan, jenis kelamin, ras, warna kulit, atau ideologi. Hati akan membisikkan perasaan kasihan dan ingin menolongnya. Perasaan seperti ini tidak memandang usia tua atau muda, orang baik atau jahat, orang kaya atau miskin.

Demikian juga sebaliknya, hati akan melarang setiap tindakan kita yg mengantarkan kita pada keburukan. Allah tidak suka jika makhluknya berpaling dari hati yg bersih. Hatilah yg pertama kali memberontak dan memberi nasihat ketika kita akan mengerjakan hal-hal yg buruk atau perbuatan dosa. Hati pulalah yg memunculkan perasaan penyesalan atau kegelisahan ketika kita melakukan tindakan yg kurang terpuji. Ketika perasaan itu muncul, ini pertanda bahwa hati kita kembali kepada Allah.

Sayangnya, hati kita sering tertutup sehingga tidak memancarkan cahaya, terutama pancaran dari sifat-sifat Ilahiah. Menurut Imam Al-Ghazali, hati menusia ibarat cermin yg akan mengilap dan memantulkan cahaya jika selalu dibersihkan dari noda. Jika hati dipenuhi noda, perbuatan-perbuatan yg berseberangan dengan sifat-sifat Allah, ia akan berkarat dan sulit menerima cahaya. Karena hati yg bersih akan menerangi jiwa manusia sehingga memancarkan aura kemuliaan.

Salah satu cara agar hati kita tidak gelisah adalah dengan senantiasa menanamkan sifat-sifat Allah. Tetapi, untuk sampai pada derajat kesempurnaan bukanlah hal yg gampang. Hati akan melalui ujian dan godaan. Ujian itu bisa muncul dalam bentuk keluarga, harta, dan kedudukan.

Jalan yg efektif untuk menanamkan sifat-sifat Allah adalah taqarrub. Dengan taqarrub, kita akan senantiasa dekat dengan Allah. Dan bukankah semua ujian itu mudah dilalui dengan pertolongan-Nya? Jadi, seberapa seringkah kita ber-taqarrub?

Dalam tradisi sufi terdapat ungkapan; man ’arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu (siapa yg mengenal dirinya, akan [mudah] mengenal Tuhannya). Jadi, dengan mengenal siapa kita, kita pun mengenal Tuhan. Dengan mengenal Tuhan, hati akan bersih karena kita yakin bahwa semua yg kita lakukan akan dibalas-Nya secara adil.

Dengan keyakinan yg kukuh ini, kita akan meraih ketenteraman. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah... “orang-orang yg beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS Al-Ra’d [13]: 28). Jadi, sering-seringlah mengingat-Nya agar hati terhindar dari kegelisahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar