Assalamu'alaikum and Hi...
Hati cermin keimanan
Wahai muslimah... apakah yg menjadi pusat pengendali jiwa
kita tatkala sedang gelisa? Jawabannya tentulah hati. Hati merupakan benteng
jiwa yg harus kita pelihara agar terawat, utuh, dan kuat, sehingga bisa tetap
bertahan dalam kondisi zaman yg terus berubah.
Dalam perjalanan hidup kita, hati akan senantiasa berubah. Kadang-kadang,
hati merasa riang gembira tak terkira. Tetapi pada saat yg lain, hati akan
merasa sedih. Pada waktu yg berbeda, hati merasa tenang. Tetapi pada saat yg lain,
hati gelisah. Begitu pula dalam ibadah. Suatu saat, hati ingat kepada Allah dan
ingin selalu beribadah. Tetapi pada saat yg lain, hati lupa kepada-Nya, bahkan
banyak melanggar ajaran agama!
Itulah hati, sebagaimana artinya, selalu berubah-ubah. Hati
atau qalb berasal dari kata qalaba yg bermakna ‘berbolak-balik’. Hati yg
senantiasa bersih akan selalu tenang dan siap menghadapi keadaan apa pun,
termasuk keadaan yg membuat kita sedih atau gelisah. Oleh karena itu, kita
harus senantiasa menjaganya agar terus terarahkan pada hal-hal yg positif.
Sebenarnya, hati senantiasa membisikkan hal-hal yg baik. Misalnya,
ketika ada orang yg mendapat musibah atau bencana meskipun berbeda agama, suku,
golongan, jenis kelamin, ras, warna kulit, atau ideologi. Hati akan membisikkan
perasaan kasihan dan ingin menolongnya. Perasaan seperti ini tidak memandang
usia tua atau muda, orang baik atau jahat, orang kaya atau miskin.
Demikian juga sebaliknya, hati akan melarang setiap tindakan
kita yg mengantarkan kita pada keburukan. Allah tidak suka jika makhluknya
berpaling dari hati yg bersih. Hatilah yg pertama kali memberontak dan memberi
nasihat ketika kita akan mengerjakan hal-hal yg buruk atau perbuatan dosa. Hati
pulalah yg memunculkan perasaan penyesalan atau kegelisahan ketika kita
melakukan tindakan yg kurang terpuji. Ketika perasaan itu muncul, ini pertanda
bahwa hati kita kembali kepada Allah.
Sayangnya, hati kita sering tertutup sehingga tidak
memancarkan cahaya, terutama pancaran dari sifat-sifat Ilahiah. Menurut Imam
Al-Ghazali, hati menusia ibarat cermin yg akan mengilap dan memantulkan cahaya
jika selalu dibersihkan dari noda. Jika hati dipenuhi noda, perbuatan-perbuatan
yg berseberangan dengan sifat-sifat Allah, ia akan berkarat dan sulit menerima
cahaya. Karena hati yg bersih akan menerangi jiwa manusia sehingga memancarkan
aura kemuliaan.
Salah satu cara agar hati kita tidak gelisah adalah dengan
senantiasa menanamkan sifat-sifat Allah. Tetapi, untuk sampai pada derajat
kesempurnaan bukanlah hal yg gampang. Hati akan melalui ujian dan godaan. Ujian
itu bisa muncul dalam bentuk keluarga, harta, dan kedudukan.
Jalan yg efektif untuk menanamkan sifat-sifat Allah adalah
taqarrub. Dengan taqarrub, kita akan senantiasa dekat dengan Allah. Dan bukankah
semua ujian itu mudah dilalui dengan pertolongan-Nya? Jadi, seberapa seringkah
kita ber-taqarrub?
Dalam tradisi sufi terdapat ungkapan; man ’arafa nafsahu
faqad ‘arafa rabbahu (siapa yg mengenal dirinya, akan [mudah] mengenal
Tuhannya). Jadi, dengan mengenal siapa kita, kita pun mengenal Tuhan. Dengan mengenal
Tuhan, hati akan bersih karena kita yakin bahwa semua yg kita lakukan akan
dibalas-Nya secara adil.
Dengan keyakinan yg kukuh ini, kita akan meraih
ketenteraman. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah... “orang-orang
yg beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS Al-Ra’d [13]: 28). Jadi,
sering-seringlah mengingat-Nya agar hati terhindar dari kegelisahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar